9 Dari 10 Orang Belum Siap Pensiun

JAKARTA, KOMPAS.com — Sebanyak sembilan dari sepuluh orang di Indonesia belum siap menghadapi pensiun. Sekitar 65 persen pensiunan bahkan tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Hal itu disampaikan perencana keuangan Eko Endarto dalam program Independent Financial Planner Expo di Jakarta, Sabtu (26/3/2011). ”Kenapa pensiun penting? Karena ada nilai uang, biaya hidup, dan kondisi fisik,” kata Eko.

Eko Endarto memaparkan, sekitar 21 persen masyarakat tak tahu kebutuhan pensiun. Sekitar 60 persen pensiunan mengandalkan Jaminan Sosial Tenaga Kerja sebagai sumber penghasilan pada masa pensiun.

Eko lantas memaparkan kebutuhan hidup pada masa pensiun dengan perkiraan ketika ini berusia 30 tahun, akan pensiun pada usia 55 tahun, dengan usia cita-cita hidup sekitar 70 tahun atau 75 tahun. Dengan perkiraan biaya hidup ketika ini Rp 5 juta per bulan, nilainya akan setara dengan Rp 54 juta per bulan nantinya. Diperlukan dana minimal Rp 13 miliar untuk hidup setara dengan ketika ini. ”Dana itu bisa diperoleh dengan investasi kurang dari Rp 2 juta per bulan apabila produknya tepat,” ujar Eko.

Perencana keuangan Ligwina Poerwo Hananto menuturkan, ada tiga hal yang bisa dipakai untuk investasi, adalah bisnis, properti, dan surat berharga. Salah satu dari investasi itu bisa dilakukan, tetapi harus sesuai kesiapannya.

Sadar investasi

Ekspo yang digelar oleh 11 firma perencana keuangan independen di Indonesia pada hari Sabtu pekan kemudian itu dipenuhi pengunjung. Mereka menyemut di sekeliling area unjuk bincang (talkshow) dan bersedia antre cukup usang untuk dicek kesehatan finansialnya oleh konsultan keuangan.

Pengunjung bersedia membayar Rp 75.000 hingga Rp 150.000 —tergantung waktu pemesanan tiket masuk—untuk memperoleh tips mengelola keuangan dan berinvestasi. Mahasiswa, yang sanggup masuk dengan gratis selama menawarkan kartu tanda mahasiswa, juga ramai di area ekspo.

Ahmad Gozali, salah seorang perencana keuangan, mengakui, hadirnya orang-orang muda menawarkan kesadaran berinvestasi sudah semakin meluas. ”Kalau dulu setingkat orang yang gres masuk kerja, kini mahasiswa pun sudah ingin tahu wacana berinvestasi,” katanya.

Fransisca dan Nurmaya, mahasiswi akademi tinggi di Jakarta, mengaku tiba untuk mengetahui cara-cara merencanakan dan mengelola keuangan  ketika sudah memasuki dunia kerja. ”Saya juga sudah berpikir, kira-kira investasi yang sempurna sesudah kerja nanti menyerupai apa, semoga uang honor juga terang arahnya,” kata Fransisca. (IDR)
Sumber : Kompas.com


EmoticonEmoticon