
Gaji yang kurang maknyus, jarang melaksanakan investasi, dan tabungan yang serba terbatas bisa menciptakan masa depanmu benar-benar suram. Anda terpuruk dalam nestapa persis dikala usia Anda sudah tidak produktif lagi.
Slogannya menjadi amat pahit : dikala muda kerja keras banting tulang, lembur dengan honor pas-pasan; dikala bau tanah sakit-sakitan dan sengsara alasannya yakni nol investasi.
Mari diminum dulu kopinya, untuk menemani mendung di pagi hari.
Sejatinya saya sudah pernah menulis perihal masa depan yang kelam bagi sebagian besar karyawan Indonesia dalam menatap usia pensiunnya.
Mari coba kita hitung ulang berapa biaya hidup yang Anda butuhkan dikala kelak usia Anda 55 tahun dan masuk masa pensiun.
Asumsi dikala ini usia Anda masih 30 tahun. Dan biaya hidup kini hanya 5 juta/bulan. Ukuran yang sangat minim, alasannya yakni saya pernah menghitung biaya hidup yang memadai yakni Rp 15 juta/bulan.
Okelah, anggap biaya hidup Anda kini hanya 5 juta/bulan. Laju inflasi per tahun 6% – ini yakni rata-rata inflasi tahunan kita selama 5 tahun terakhir.
Dengan biaya hidup dikala ini 5 juta, usia Anda kini 30 tahun, dan laju inflasi tahunan 6%, maka biaya hidup dikala usia Anda 55 tahun sudah naik menjadi Rp 21,5 juta/bulan.
Kenapa naik jadi 21 jutaan? Karena inflasi setahun 6%. Biaya hidup kan memang naik setiap tahun alasannya yakni inflasi. Kalau dihitung : dengan inflasi 6%/tahun, maka dalam 15 tahun ke depan biaya hidup 5 juta itu akan naik menjadi 21,5 juta/bulan.
Artinya dikala usia Anda 55 tahun, dan pensiun, biaya hidup yang Anda butuhkan 21,5 juta/bulan. Ini dengan perkiraan biaya hidup Anda kini HANYA 5 juta/bulan.
Rata-rata impian hidup orang Indonesia kini yakni 75 tahun. Artinya Anda masih perlu 20 tahun untuk menyiapkan biaya hidup.
Jadi total biaya hidup yang Anda perlukan untuk pensiun dengan nyaman yakni : Rp 21,5 juta/bulan x 12 (bulan) x 20 (tahun) = Rp 5.1 milyar.
Banyak sekali sodara-sodara. Wajar kalau lebih banyak didominasi pekerja Indonesia tidak siap menghadapi masa depan. Dan kemudian kebanyakan “lari dari kenyataan”.
Cara paling elegan untuk lari dari kenyataan yakni dengan kalimat menyerupai ini : “Yah, biarkan hidup mengalir saja mas….”. Ya kalau mengalirnya ke Samudra Atlantik. Keren. Kalau mengalirnya ke Septic Tank ?? Modyar kon.
Atau kalimat lain yang lebih heorik : “Matematikanya Allah tidak menyerupai itu mas….”. Kalimat ini hanya punya makna kalau yang mengucapkan bergerak mengubah nasib dengan KREATIVITAS dan KOMPETENSI.
Yang fatal yakni kalau kalimat indah itu dipakai untuk menutupi ketidakmampuan dirinya untuk mengubah nasib. Untuk menutupi kemalasan dirinya dan kemudian berlindung dibalik kalimat yang mulia.
Malaikat yang mencatat amalan insan mungkin jadi gundah : si Fulan ini bagaimana, menyebut-nyebut nama Tuhan, tapi malas mengubah nasib dan membiarkan dirinya terjebak nestapa dengan honor yang pas-pasan.
Kenapa si Fulan membiarkan dirinya terjebak kenestapaan dikala usianya tua, alasannya yakni 3 alasan berikut ini. 3 hal yang layak dikenang, dikala kita mengucap kalimat : “rezeki selalu punya jalannya sendiri-sendiri”.
Reason # 1 : No Investment. Banyak orang menjadi nyungsep dikala tua, alasannya yakni di dikala muda tidak pernah melaksanakan investasi. Mungkin alasannya yakni memang penghasilannya pas-pasan sehingga nyaris tidak tersisa untuk investasi.
Atau mungkin hidupnya agak boros : ambil kredit kendaraan beroda empat meski honor tak seberapa. Beli gadget yang paling cantik meski honor pas-pasan.
Sekarang, saya mau memberi hitungan bedanya investasi dikala usia muda dan usia tua.
Misal usia Anda 25 tahun, dan investasi 10 juta, dengan return on investment sebesar 15% per tahun (ini rata-rata hasil investasi di reksadana. Di properti juga sama bahkan lebih besar).
Dengan return 15% per tahun, maka pada dikala usia 55 tahun, dana 10 juta yang Anda investasikan di usia 25 tahun itu sudah akan bermetamorfosis Rp 662 juta. Inilah the magic of investment.
Sementara kalau Anda investasi 10 juta dikala usia 35 tahun, maka kesudahannya hanya akan menjadi Rp 166 juta dikala usia 55. Dan kalau invest di usia 40, maka kesudahannya hanya akan menjadi Rp 81 juta.
Anda lihat sendiri perbedaannya. Betapa jauhnya hasil yang Anda akan sanggup dikala invest di usia 25, 35 atau 40 tahun. Maka makin muda usia, melaksanakan investasi, makin bagus.
“Aduh mas….uangnya sudah habis buat beli gadget mas. Ndak ada lagi untuk investasi”.
Lhah bagaimana sampeyan bisa makmur kalo konsumtif kayak gitu.
Reason # 2 : Stuck and No Action. Banyak orang yang nyungsep di dikala menjelang bau tanah alasannya yakni tabungan pas-pasan. Dan kenapa tabungan pas-pasan, mungkin alasannya yakni penghasilannya belum begitu memadai.
Problemnya : banyak orang yang mungkin merasa stuck dengan pekerjaannya (gaji sedikit, karirnya sembelit) namun tidak berani melaksanakan action.
Mengeluh ya, namun action-nya nol. Plus sambil terus termangu tapi tetap “tidak bergerak untuk mengubah nasib”.
(Kapan Le sampeyan sugihe, nek isone mung sambat karo ngalamun….)
Tuhan tidak akan mengubah nasibumu, kalau Anda tidak bergerak mengubah nasib.
Nasibmu juga akan tetap stagnan, kalau bisanya hanya bilang :”matematikanya Allah tidak menyerupai itu mas”, namun tidak berani melaksanakan action terobosan untuk percepatan rezeki yang barokah.
Kenapa tidak bisa action? Mungkin alasannya yakni kompetensinya abal-abal. Dan kenapa kompetensi nyungsep? Mungkin alasannya yakni alasan yang ketiga berikut ini.
Reason # 3 : No Learning Resiliency. Banyak orang menjadi stagnan nasibnya alasannya yakni tidak mau terus mempertajam skills dan kreativitasnya. Ingat, perubahan nasib hanya bisa dipahat dikala engkau punya skills dan kreativitas yang cetar membahana.
Problemnya, banyak orang malas berbagi dirinya alasannya yakni terjebak dalam “comfort zone yang penuh dengan kenestapaan”. Maksudnya : lebih banyak asyik membuang waktu untuk hal-hal yang tidak produktif.
Misal : menghabiskan waktu berjam-jam untuk browsing, main FB, dan chatting di puluhan grup BBM/WA – yang acap isinya sama sekali tidak relevan dengan penguatan skills dalam bidangnmu.
Atau yang lebih kelam : malah sibuk membahas warta sampah di social media yang kadang sarat dengan emosi dan kebencian. Dan tidak ada korelasinya dengan perubahan nasibmu.
Tanpa sadar, waktu untuk cek smartphone dan notifikasi penuh distraksi itu mungkin banyak merenggut waktu produktifmu untuk belajar.
Solusinya simple : lacak skills yang amat krusial bagi arah hidupmu. Lalu fokus gunakan waktu luangmu untuk mencar ilmu peningkatan skills itu. Dan bukan buang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak perlu.
DEMIKIANLAH, tiga hal yang layak direnungkan demi masa tuamu. Demi masa depanmu.
No investment. Stuck and no action. No learning resiliency. Tiga hal ini yang secara muram bisa menciptakan masa tua-mu terpelanting sunyi dalam kenestapaan. Dalam perih dan duka.
Sumber : http://strategimanajemen.net

EmoticonEmoticon